Pembelajaran yang ditandai dengan rendahnya kemampuan berpikir kritis

Pembelajaran
sains, pada dasarnya menediakan sarana kepada siswa untuk menjadi pebelajar mandiri yang mampu mengembangkan keterampilan proses dan produk sains yang dimilikinya. Pembelajaran Bsains,
termasuk Biologi sarat akan kemampuan mengamati, menemukan, menggunakan alat
dan bahan, mengembangkan prosedur, serta mencipta suatu produk baru. Hanya
saja, prinsip-prinsip dalam pembelajaran Biologi tidak dimaknai secara tepat
oleh guru dan siswa. Sebagian besar guru dan siswa di Indonesia menganggap
bahwa Biologi merupakan ilmu hafalan dan belajar Biologi lebih pada kegiatan
menghafal materi atau konsep yang telah tersedia di berbagai buku dan referensi
lainnya. Persepsi ini mengakibatkan pelaksanaan pembelajaran Biologi lebih berorientasi pada aspek produk. Selain itu proses pembelajaran di sekolah sejauh ini
lebih banyak mengarahkan siswa pada pola belajar kompetitif dan individualitas.
Pembelajaran dikatakan mengarah pada pola belajar kompetitif karena proses
pembelajaran cenderung menempatkan siswa pada posisi persaingan dengan
siswa-siswa yang lain. Kecenderungan guru untuk membuat rangking kelas
merupakan kasus yang sering dijumpai, demikian pula kecenderungan guru
membanding-bandingkan hasil ujian siswa. Pembelajaran dikatakan mengarah pada
pola belajar individualitas karena proses pembelajaran seringkali berlangsung
tanpa ketergantungan atau komunikasi antar siswa. Lebih
lanjut, kondisi ini dapat menyebabkan rendahnya kompetensi siswa yang ditandai
dengan rendahnya kemampuan berpikir kritis dan kognisi siswa.

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di SMP
Laboratorium Universitas Negeri Malang menunjukkan bahwa siswa lebih ditekankan
pada proses pengerjaan modul secara individual, kondisi ini mengakibatkan
rendahnya hubungan sosial antar siswa. Siswa jarang melakukan diskusi dan
bekerja secara berkelompok, padahal bekerja berkelompok dapat membantu
meratakan dan meningkakan pemahaman siswa, melalui kerja kelompok, siswa saling
bertukar pendapat dan pemikiran sehingga mampu mengembangkan kemampuan berpikir
tingkat tinggi dengan baik yang nantinya berkorelasi pada hasil belajar yang
baik pula. Disamping itu, banyak siswa yang mampu menyelesaikan pertanyaan
dengan level kognitif yang rendah dan sulit untuk mengatasi permasalahan pada
level kognitif yang tinggi, siswa kurang dilatih dalam berpikir secara kritis.
Hal ini tentu saja sangat merugikan karena berpikir kritis mampu mendorong
siswa untuk bersikap rasional dan memilih alternatif pilihan yang terbaik bagi
dirinya. Melalui berpikir kritis seorang siswa diharapkan mampu
mengidentifikasi gejala dan masalah, mampu menganalisis gejala dan masalah,
mampu menyelesaikan masalah, memperbaiki kesalahan, dan melengkapi kekurangan
dalam masyarakat dengan hasil karyanya (penelitian, penerapan ilmu, dan
sebagainya). dengan kata lain, diharapkan siswa dapat secara mandiri belajar
memaha-mi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah agar nantinya dapat
melakukan perbaikan masyarakat (Mayasari, 2006).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Hasil belajar juga memiliki peranan yang sangat vital dalam keberhasilan
pembelajaran. Menurut Karmana (2010), hasil belajar merupakan suatu hal
yang sangat penting artinya dari proses pembelajaran karena merupakan indikator keberhasilan belajar. Hasil
belajar kognitif merupakan tingkah laku siswa yang dikehendaki dan benar-benar
terjadi terhadap penguasaan materi pembelajaran (Suratno, 2009). Fadjar (2005)
juga mengungkapkan bahwa aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta
didik harus menjadi fokus utama pendidikan.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil
belajar, saat ini banyak dikembangkan pembelajaran kooperatif. Roger &
Johnson (1994) menyatakan bahwa elemen utama pembelajaran kooperatif adalah 1)
ketergantungan antar siswa untuk mencapai tujuan bersama mencapai suatu tujuan,
2) interaksi langsung antara siswa satu dengan siswa yang lain, 3) tanggung
jawab masing-masing siswa untuk mengusai bahan pelajaran, 4) menggunakan ketrampilan
interpersonal dan kelompok kecil. Belajar kooperatif merupakan salah satu
metode pembelajaran yang diyakini mampu meningkatkan pemahaman siswa karena
pembela-jaran ini berorientasi pada siswa. Pembelajaran kooperatif memberikan
kesempatan kepada siswa untuk membangun pemahaman suatu konsep melalui
aktivitas sendiri dan interaksinya dengan siswa lain. Pembelajaran kooperatif
juga dapat memberikan dukungan bagi siswa dalam saling tukar menukar ide,
memecahkan masalah, berpikir alternatif, dan meningkatkan kecakapan berbahasa
(Arnyana, 2004).

Salah satu strategi pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan ialah Think Pair Share (TPS), Model pembelajaran Think Pair Share dipilih
karena dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mendengarkan satu sama lain
serta memiliki waktu yang lebih banyak untuk berpikir. Setelah berdiskusi
berpasangan, siswa diharapkan akan dapat belajar berbicara dan mendengarkan
orang lain (Amri dan Ahmadi, 2010). Pembelajaran kooperatif dengan model Think
Pair Share mudah diterapkan pada semua mata pelajaran termasuk Biologi.
Dengan model pem­belajaran Think-Pair-Share, siswa akan lebih aktif karena kelompok yang di­bentuk adalah kelompok
kecil dan masing-masing siswa berpikir dan mencari sendiri alternatif pemecahan
masalah yang dihadapi sebelum melakukan Pair dan Share, dengan
demikian siswa akan terlatih untuk melakukan proses berpikir. Strategi TPS akan
lebih terorganisir jika dipadukan dengan modul. Penggunaan modul sebagai pegangan siswa dalam
pembelajaran mampu menyiapkan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Modul yang
kontekstual dan menarik, dapat menimbulkan keinginan siswa untuk
mempelajarinya. Kegiatan belajar lebih banyak dan bervariatif. Materi yang
disajikan menggunakan bahasa tulis yang menarik dan mudah dipahami. Selain itu
juga disajikan peristiwa-peristiwa berupa gambar-gambar yang lebih disukai
siswa. Pertanyaan-pertanyaan yang disajikan juga bersifat kontekstual sehingga
lebih menarik untuk dijawab. Modul secara tidak langsung meningkatkan  pemahaman konsep biologi siswa, melalui
penaataan materi dan pertanyaan dalam modul maka pemahaman konsep siswa akan
tertata dan semakin baik.

Disamping penggunaan TPS dan modul, kegiatan pembelajaran dapat
ditingkatkan melalui pelaksanaan Lesson
Study. Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk
meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif
dan berkelanjutan. Fokus
utama dalam kegiatan lesson study
ialah bagaimana perkembangan dan kegiatan belajar siswa (Lewis, 2006). Melalui tahap Plan, Do, dan See diharapankan dapat semakin meningkatkan pelaksanaan
pembelajaran dengan model TPS dan modul sehingga berpeluang dalam mengembangkan
keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif lebih lanjut