Pada dilupakan dan menjadikan kejadian tersebut sebuah trauma.

Pada sisi yang lain, depresi merupakan salah
satu respons dari tubuh untuk kita agar kita bisa lebih tenang dan rileks.
Seperti David G. Myers tuliskan dalam buku Psychology
Ninth Edition In Modules, depresi merupakan semacam hibernasi psikis.
Depresi memperlambat kita, meredakan agresi, dan menahan risiko (Allen &
Badcock, 2003). Untuk menggiling kita sementara untuk berhenti dan merenung,
seperti yang dilakukan orang yang depresi, untuk menilai ulang kehidupan
seseorang saat merasa terancam, dan mengalihkan energi dengan cara yang lebih
menjanjikan (Watkins, 2008). Namun, kenyataannya tidak semua orang dapat keluar
dari zona tersebut dan dapat mengartikan depresi seperti yang dijelaskan
sebelumnya. Banyak yang terjerumus berlanjut menjadi depresi yang lebih berat
yang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Penyebab depresi terjadi karena beberapa faktor, yaitu faktor
biologis, faktor psikologis, dan faktor sosial.

Faktor biologis pada gangguan depresi yang ditemukan
oleh para ahli menyatakan bahwa depresi melibatkan patologik, system limbik dan
ganglia basis serta hypothalamus. Dalam penelitian biopsikologi, terdapat dua norepinefrin
dan serotonin  yang banyak berperan dalam
gangguan mood, yaitu salah satunya depresi. Penyakit fisik yang berkepanjangan
sehingga menyebabkan stress pun dapat menyebabkan depresi.

Faktor Psikologis pada gangguan depresi mengacu
kepada pola pikir dan kepribadian pada individu. Peneliti menemukan bahwa pada
individu yang dependent, ia memiliki harga diri yang rendah, tidak asertif. Kemudian
pada individu yang memiliki pemikiran irasional, yaitu pemikiran yang salah
dalam berpikir seperti menyalahkan diri sendiri atas ketidakberuntungan.
Sehingga pada individu yang mengalami depresi cenderung menganggap bahwa
dirinya tidak dapat mengendalikan diri dan lingukannya. Hal tersebut akan
mengakibatkan membentuk individu yang pesimis dan apatis.

Sedangkan pada faktor sosial, banyak peneliti
menemukan bahwa depresi dapat terjadi ketika individu mengalami
kejadian-kejadian yang tragis dan sulit dilupakan dan menjadikan kejadian
tersebut sebuah trauma. Pada individu yang mengalami stress berat, hal tersebut
akan menjadikan ia jatuh kedalam depresi. Jika sudah terkena depresi, dia akan
sulit untuk keluar dari traumanya dan akan terus menutupi diri dan jika sudah
depresi berat, hal tersebut bisa menyebabkan keinginan individu untuk bunuh
diri.

Akibat yang terjadi apabila individu
mengalami depresi adalah diantaranya bunuh diri, gangguan pekerjaan, gangguan
pola hidup, dan memunculkan perilaku-perilaku yang merusak, Depresi merupakan
salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri. Sebanyak 40% penderita depresi
di dunia mempunyai pemikiran untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri,
dan hanya 15% saja yang terjadi. WHO memprediksi bahwa pada sekitar tahun 2020,
depresi akan menjadi salah satu gangguan mental yang banyak terjadi dan depresi
berat akan menjadi penyebab kedua terbesar kematian setelah serangan jantung.
Berdasarkan data tersebut, depresi menjadi hal yang serius untuk ditanggapi.
Banyak orang yang masih menyepelekan depresi sebagai gangguan yang biasa. Pada
kenyataanya, tidak semua individu bisa mengatasi depresi. Butuh seorang tenaga
ahli atau seorang professional dibidang kejiwaan, yaitu psikolog. Psikolog
sangat dibutuhkan untuk menangani kasus seperti depresi ini, agar banyak nyawa
yang tertolong. Namun tenaga psikolog yang ada belum terpenuhi secara
keseluruhan, masih dibutuhkan tenaga-tenaga ahli untuk mengatasi masalah
kejiwaan seperti ini dimasa yang akan dating. Karena semakin modernnya zaman,
akan semakin tinggi pula kebutuhan individu untuk diakui dimasyarakat, dari situlah
menjadi awal stress pada individu dan jika tidak terpenuhi akan mengakibatkan
depresi.